Penyesalan

 Pagi itu adalah pagi yang sangat Dingin. Sarung tangan, jaket, kaos kaki, semua menutupi tubuh. Jarum jam menunjuk di angka 06.30, saat dimana semua orang memulai aktifitas. KekAntor, sekolah, kerja, kekampus semuanya sibuk.
Dinda, iya cewek ini adalah tipe cewek pemalas.
” Din, bangun sudah siang nanti kamu telat kesekolah.” Teriak ibu Dinda.
Jangankan untuk bangun, teriakan ibunya saja diabaikan. Waktu terus berjalan pukul 07.15 WIT.
“ Ibu, tau tidak sekarang jam berapa? Sekarang pukul 07.15 WIT kenapa ibu tidakmembangunkan saya?” Teriak Dinda memarahi ibunya.
“ Ibu, tadi sudah membangunkan kamu tapi kamu tidak bangun-bangun nak, Maafkan ibu.” Jawab ibu.
“ Alah alasan, dasar orang tua bodoh.” Bantah Dinda.
Adu mulutpun terjadi, Dinda terus menyalahkan ibunya. Kemudia ia berangkat kesekolah dan sesampainya disekolah pintu gerbang sudah terkunci.
“ Dasar satpam payah! Jam segini gerbang sudah dikunci . Aah... ngapain dipikirin menDing ditinggal ngopi sambil nongkrong pasti enak.
“ Bodo amat... cuih “ Gunam Dinda.
“ Woy, Din sini ayo minum kopi ntar aku bayarin.” Teiak Anto teman warung Dinda.
“ Oke.” Jawab Dinda senang.
“ Eh, besok ada Armada di Asem-asem ayo lihat nanti aku goncengin.” Ajak Anto
“ Tapi besok aku sekolah, pelajarannya pak Tri Wibowo. Bisa-bisa digantung kalo aku tidak masuk kelas. Orangnya kayak singa.” Jawab Dinda
“ Alah... gampang itu baru uga kayak singa belom kayak orang hutan. Hahahaha...... ayolah Din sekali-sekali.” Paksa Anto
“ Oke, besok tunggu aku disini. Aku pulang dulu ngantuk.”
Keesokan harinya Dinda pergi bersama temannya itu. Sungguh perbuatan yang tidak lazim dilakukan oleh seorang cewek. Orang tua Dinda sudah cukup lelah menasehatinya, mereka hanya bisa pasrah. Tak ada angin tak ada hujan tiba-tiba Dinda semangat ingin masuk sekolah, dan sesampainya disekolah;
“Din, kamu kemana saja akhir-akhir ini tidak pernah masuk.” Tegur Dwi teman sekelas Dinda.
“ Suka-suka aku, kemana aja bukan urusan kamu. Kaki-kaki aku kenapa kamu yang repot.” Jawab Dinda ketus.

Tak lama kemudian Dinda mendapat surat panggilan orang tua yang isinya adalah surat peringatan pengeluaran siswa dari sekolah. Kemurkaan orang tua Dinda semakin memuncak, mereka sangat kecewa dengan perbuatan Dinda . setelah meraka datang dan memintamaaf pada guru disekolah Dinda diizinkan untuk mengikuti kembali pelajaran disekolah tapi dengan satu syarat ia harus berjanji akn berubah menjadi lebih baik.
Hari demi hari terlewati, seiring berjalannya waktu Dinda mulai menyadari perbuatannya dan mulai berubah . Dinda menjadi anak yang pediam dan giat, namun tiba-tiba saat ia pulang dari sekolah Anto menghampirinya dan memanas-manasi Dinda agar ia kembali seperti dulu. Nampaknya Dinda terpacing oleh  rayuan Anto, ternyata Dinda belum berubah Dinda kembali seperti dulu lagi.
Langkah hentak kaki Dinda melangkah menuju rumah. Dari kejauhan nampak bendera berwarna kuning tetancap pada pohon pisang yang sengaja dipasang didepan rumahnya. Begitupun dirumahnya terdengar nyaring  lantunan ayat suci Al-Qur’an.
“ Ada apa ini?” Tanya Dinda bingung.
Tak seorangpun menjawab pertanyaan Dinda, dengan wajah panik Dinda berjalan menghampiri seorang yang tengah terbaring terbujur kaku berselimut kafan dengan mata tertutup yang ternyata itu adalah ibu Dinda. Sosok yang selama ini selalu menjaga dan merawat Dinda hingga dewasa, sosok yang selama ini selalu sabar dan tabah saat dicaci maki oleh anaknya. Sosok yang selama ini selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk anaknya.  Tak lama datang seorang lelaki menyodorkan sepucuk surat dihadapan Dinda, lelaki itu adalah ayah Dinda.
“ Dinda, ibu sayang sekali sama kamu nak. Sangat ingin rasanya ibu melihat kamu tumbuh dewasa dan menikah dengan laki-laki pilihanmu. Namun, mungkin umur ibu sudah tidak lama lagi.  Ibu hanya ingin berpesan sama kamu, jadilah anak yang berbakti, hormati dan sayangi ayahmu, jadilah anak baik-baik, kejar cita-citamu karena ibu percaya kamu itu sebenarnya baik. Kamu bisa sayang, ibu hanya ingin melihat kamu berubah. Ibu sayang kamu.”
Saat membaca isi surat ini Dinda terus meneteskan air mata.Nampak  terlihat penyesalan di raut mukaya.
“ Ibumu, sakit kanker paru2 selama 3 tahun namun karna semangatnya untuk sembuh ia masih bisa bertahan hingga saat ini. Ia tidak ingin kamu tau akan penyakitnya, ia selalu melarang ayah untuk menceritakannya padamu. Tapi kemaren saat jadwal check up ibu kamu, uang yang seharusnya ia gunakan untuk menebus obat justru kamu minta.”  Dengan nada terpatah-patah dan sesekali ia meneteskan air  mata, lalaki paruh bayah itu menceritakan semua hal yang ia rahasiakan selama ini bersama istrinya.

Dalam keterpurukan kehilangan sesosok ibu yang menyayanginya selama ini, ia juga harus menerima kenyataan bahwa ia sekarang sudah dikeluarkan dari sekolah. Dinda tak dapat berkata apapun, ia hanya dapat meratap dan menyesali kesalahannya. Namun, untuk apa menyesal bila nasi sudah menjadi bubur dan tidak akan pernah menjadi nasi kembali. Kini penyesalan tinggallah penyesalan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selamat jalan kakak - Devi Dwi Nuraliza