Selamat jalan kakak - Devi Dwi Nuraliza

Sastrawan? Kenapa harus sastrawan. Terlintas dalam benakku kembali menggingat saat dimana kakakku masih disampinngku. Dia memang bukan kakak kandungku melaikan dia adalah kakak sepupuku yang tinggal tepat disamping rumahku. Namun karena tuntutan kerja ia harus merantau di jakarta. Karier yang dirintisnya dijakarta sudah lumayan besar, namun ditengah-tengah melambungnya kariernya tersebut justru ia harus mendapatkan cobaan yang berat. Ia mulai sakit-sakitan, tak pernah ia sadari bahwa penyakit maag yang dia derita selama ini sudah menjalar ke liver dan  harus membawanya rawat inap disalah satu rumah sakit besar di ibu kota. Sifatnya yang tidak ingi merepotkan orang lain, membuat dia enggan memberi kabar kepada keluarga di kampung itu semua dikarenakan ia tidak ingin membuat orang tuanya di kampung menjadi cemas dan khawatir akan keadaannya. Seminggu sudah ia dirawat dirumah sakit, namun masih belum ada perubahan. Akhirnya keluarga dijakarta memutuskan untuk tetap memberi kabar kepada keluarga dikampung walaupun itu ditantang keras olehnya.
Tak lama-lama kami berfikir, saya dan budhe (ibu dari kakak) langsung bergegas siap2 berangkat kejakarta untuk melihat dan memastikan keadaan beliau. Pagi itu saya dan budhe telah sampai dan menginjakan kaki di ibu kota. Karena rumah sakit tidak mengizinkan lebih dari 2 orang untuk menginap dirumah sakit, akhirnya bahwa saya tinggal dirumah pakdhe  yang ada dijakarta. Sedangkan budhe nginep dirumah sakit bersama anak keduanya.
Seminggu sudah kami dijakarta, akhirnya kakak boleh dibawa pulang.  Beberapa hari kami merawat kakak di jakarta setelah beliau nampak sehat saya dan budhe memutuskan untuk pulang kampung. Disamping itu saya juga harus kembali menuntut ilmu disekolah.
Satu bulan setelah itu kakak masih sakit dan akhirnya ia memutuskan untuk pulang kampung dan dirawat dirumah. Tak lama beliau dirawat dirumah tapi kini beliau harus kembali dirawat dirumah sakit lagi namun kini beliau dirawat dirumah sakit kota kami yang jelas-jelas fasilitasnya jauh terbatas dibanding fasilitas yang ada di ibu kota. Dua minggu sudah beliau dirawat inap dirumah sakit, dan kini beliau diperbolehkan untuk pulang. Sungguh sangat senag kami mendengarnya, semua keluarga antusias menanti kepulangan beliau dari rumah sakit. Setiap hari aku menengoknya dan menemaninya dirumahnya, bercanda tawa penuh gurau. Kata-kata beliau sungguh bijak, saat itu ia memarahiku karena aku sering mengeluh.
 “ Hargailah jasa orang dulu.” Katanya
“ Haaaaa..... iya iya.” Jawabku menyepelekan.
Dengan tegas beliau menceritakan riwayat perjuangan beliau dimasa lalu.  Mendengar cerita itu hatiku menjadi tersentuh dan aku sekarang paham kenapa beliau berkata demikian.
“ Mas, boneka doraemon ini untukku ya?” selaku
“ Hmmm.... iyaa ambil.” Jawabnya lemas
“haaa... makasih ya.” Balasku senag.
Hingga suatu malam sakit itu datang lagi, kini badanya nampak kurus bagai tulang tertutup kulit.  Kami semua berkumpul menemaninya sisampingnya.
“ Dev, sini. Kamu harus mematuhi kata-kata orang tuamu, Jangan bantah kalo dibilangin.” Katanya sambil memegang kepalaku.
Sungguh hatiku terasa aneh saat mendengar kata-kata itu.
“ Memang kenapa?” taya ibuku terlihat sangat penasaran.
“ Tidak apa-apa, suatu saat kamu akan tahu sendiri.” Jawab kakakku.
Hari demi hari terlewati. Otakku terasa penuh, selalu terbayang-bayang kata-kata itu.
“ Apa ini ya Allah?” kataku dalam hati
Seperti biasa, aku menjalani aktifitas sehari-hariku disekolah. Entah kenapa saat berangka sekolah, didalam benakku selalu tebayang kakakku. Aku mencoba menyingkirkan fikiran-fikiran buruk itu, semoga itu hanya perasaanku yang salah. Dan ternyata....
“ Mbak, mas hen di bawa ke RS lagi.“ kata adikku sambil menangis.
Rumahku sepi, saat itu tinggallah aku, adikku dan nenekku dirumah menanti kabar perkembangan kakakku. Tak lama banyak tetanggaku datang untuk menemaniku dirumah. Mereka berkata bahwa kakakku tadi sudah sekarat dirumah dan hampir kehilangan nyawanya, sungguh hati ini tersa teriris-iris.  Tak lama ibu dan bapakku datang dan berkata bahwa kakak sudah ditangani oleh dokter.
Esok harinya tepat pada hari minggu, aku bersama keluargaku  menengok kakakku di Rumah Sakit.
“ Gimana keadaannya mas?” kataku
“ Alhamdulillah.” Jawabnya
Hanya sepatah kata memang tapi itu sudah cukup membuatku lega. Di hari berikutnya aku kembali kesana bersama ibuku, tadinya kita masih banyak bercanda tawa. Hari mulai larut, badannya begitu menggiggil kedinginan. Kakiku melangkah kearah kantor perawat ruang kakakku.
“ Sus, pasien ruang Asoka 1 badannya menggigil.” Kataku tegang.
Suster itu hanya memberiku obat tablet untuk diminum, padahal tablet yang kemaren diberikan belum habis, dan anehnya tablet itu sama dengan tablet yang diberikan kemaren. Sungguh aku sanggat kecewa, kesal. Aku kembali melangkah pada kator itu
“ Sus, pasien ini kedingnan badanya menggigil. Infusnya juga habis tolong diperiksa.” Kataku kembali.
“ Iya nanti saya kesana, atau kalo sudah habis matikan saja dulu infusnya.” Kata suster itu terlihat sangat santai
Sungguh kemurkaanku semakin bertambah . aku kecewa dengan pelayanan RS ini.
“ Rumah sakit apa ini.” Gunamku sambil berjalan menuju ruang kakakku.
Hari sudah larut malam aku pulang bersama ibuku. Hari berikutnya hanya bapak danibuku yang menengok kesana, aku mendengar kabar bahwa ruang-ruang disamping tempat tidur kakakku dirawat  orangnya sudah meninggal dunia semua.
Orang yang dirawat tepat diutara kamar dimana kakakku dirawat juga meninggal dihari selanjutnya. Seminggu setelah dirawat ia diperbolehkan untuk pulang.
“ Tut...tut...tut.... bunyi hpku. Ternyata kakakku yang menelfon. Ia minta dijemput. Kami semua senag mendengar kabar itu.
Semua berkumpul dan kembali bercanda, ia nampak sudah sehat, ia bisa bergirau kembali.
            Sungguh, ini sanggat berat sekali buatku baru 4 hari beliau dirumah nampak sehat dan baru saja habis check up ke Dokter, tapi kenapa harus kembali ke RS lagi.
“ Bagaimana mas rasa badannya.” Tanya pakdhe
“ Hancur pakdhe, badanku hancur.” Katanya lemas
Iya dibawa ke RS yang berbeda lagi agar iya mendapatkan perawatan yang lebih baik. Dan ini merupakan keempat kalinya  beliau dirawat di Rumah Sakit. Tepat empat hari beliau dirawat lagi di Rumah Sakit hari itu hari minggu, namun kali ini aku tidak dapat menengoknya karena ada kepentingan sekolah.
Kecewa, sedih, nyesel, semua bercampur aduk. Hari senin 15 September 2014 ia pergi untuk selama-lamaya meninggalkan kami.
“ Tuhan ini cuma mimpikan?” gunamku dalam hati.


Saat itu aku baru pulang sekolah tapi kenapa harus mendapat kabar seperti ini. Tak dapat lagi air mata ini dibendung. Kami semua kehilangan beliau, hanya doa yang dapat kami berikan. Selamat jalan kakak semoga amal dan ibadahmu diterima disisi-Nya dan di ampuni segala dosa-dosa selama didunia . kini semua tinggal kenangan, pesan dan amanatmu akan selalu kukenang, kujalankan dan kuterapkan. Kami sayang kakak.





Komentar